Di bawah sisa langit yang kian mengecil, Singgahsana teguh berdiri, walau membatu dalam sepi, Kuningnya bukan lagi tanda kuasa yang jahil, Tetapi parut sejarah yang menuntut janji.
Tembok-tembok ini bak kuda-kuda kita yang teguh, Menahan asakan zaman yang rakus dan menderu, Seumpama kita yang tidak akan luruh, Meski langkahnya sering dinoda debu.





