Dalam kapal terbang melintasi awan-gemawan
Bak burung bebas yang terbang ke destinasi
Dengan minda terbuka dan pasport di sisi
Kami menjelajahi tujuh perut bumi
Di bumi kuinjak kini,
semuanya pucat hilang inti,
daun-daun pokok nan layu,
gantung bergayut ditolak awan,
pasir nan kasar yang aku tak kenali,
tak ingin dijejak,
menyuruh aku pergi.
i.
“Demi kebiasaan Quraisy kaum terhormat”
kota suci Makkah menjadi saksi;
betapa demi menjaga keamanan
hidup jadi lebih nikmat & berkat
dengan rezeki nan berlimpah
Sehebat mana kita
hanyalah bagai kelkatu
yang memburu cahaya
atau semut yang melata
mencari manisnya
sfera kehidupan
Kita seperti titik-titik
atau debu-debu
yang berterbangan kecuali
ada tujuan
dan
Kejarilah ilmu dengan niat yang betul
sebab ilmu itu
bukan untuk menambah pangkat
bukan sekadar dihafal dan disimpan
tetapi untuk dimanfaatkan melalui amalan
Ku tebarkan warna lukisan
Di balik kamar terongko besi
Sambil meraih angan
Dan menanam benih-benih harapan
Ingin ku lepaskan bebanan bayangan
Yang sekian lama terbuku di lubuk
Adakala manira
Di bawah sisa langit yang kian mengecil,
Singgahsana teguh berdiri, walau membatu dalam sepi,
Kuningnya bukan lagi tanda kuasa yang jahil,
Tetapi parut sejarah yang menuntut janji.