Aku pernah bertanya
kepada teman secangkir kopi
tentang hati kita yang punya mata
mampu membaca
mampu mengenal rasa
namun kini
tiada yang peduli
akan sifatnya yang tersembunyi
Bila tiba ujian yang memeritkan
nikmat kehidupan seolah menghilang
bimbang akan kian pudarnya
cahaya penyinar harapan
terasa pedih oleh luka-luka kegetiran
Alangkah bertuah dirimu
wahai manikam nan terpilih
antara ratusan intan bermutu
yang tiada kurang silau kilaunya
engkau yang dipetik
menjadi harapan perjuangan bangsa
Langit bagaikan terus bocor. Air dari ruang langit yang tidak bertepian tumpah. Tumpah lebat tak sudah-sudah menikami bumi sejak lewat pagi. Terasa hatiku turut basah. Basah dengan perasaan sayu
Satu penyakit
wujud dalam setiap makhluk bernama manusia
dialami semua, merentas usia, bangsa
mampu membarah, merebak dan menanah
aku juga menjadi mangsa
penyakit inilah menyebabkan aku tidak berguna